Lenterapos.id – Kegagalan Inter Milan melangkah jauh di Liga Champions 2025/2026 mulai memunculkan dampak serius di balik layar. Klub raksasa Italia berjuluk Nerazzurri itu dikabarkan berada di persimpangan sulit, di mana opsi menjual pemain-pemain bintang pada bursa transfer musim panas menjadi langkah yang hampir tak terhindarkan. Situasi ini muncul setelah Inter secara mengejutkan tersingkir lebih awal di babak playoff kompetisi elite Eropa tersebut.

Gambar Istimewa : klimg.com
Kekalahan menyakitkan dari wakil Norwegia, Bodo/Glimt, bukan hanya memukul secara prestasi, tetapi juga menghantam stabilitas finansial klub. Padahal, manajemen Inter sebelumnya menargetkan minimal lolos ke babak 16 besar Liga Champions demi menjaga keseimbangan neraca keuangan. Target itu gagal total, dan efek dominonya kini mulai terasa.
Pendapatan Liga Champions Anjlok Drastis
Mengacu pada laporan media Italia, pendapatan Inter dari Liga Champions musim ini mengalami penurunan signifikan. Jika pada musim sebelumnya mereka mampu mengantongi sekitar €137 juta, kini angka tersebut merosot tajam menjadi hanya sekitar €66 juta. Selisih yang sangat besar ini menciptakan lubang finansial yang sulit ditutup dalam waktu singkat.
Kondisi semakin rumit karena Inter juga tidak mendapatkan pemasukan tambahan dari Piala Dunia Antarklub, yang sebelumnya diharapkan menjadi sumber pendapatan ekstra. Meski sempat mencatatkan rekor pendapatan €567 juta pada musim lalu—tertinggi dalam sejarah sepak bola Italia—realitas musim ini memaksa manajemen kembali berpijak pada kalkulasi realistis.
Tiga Pilar Utama di Ambang Penjualan
Dalam situasi genting ini, masa depan beberapa pemain kunci Inter Milan mulai dipertanyakan. Setidaknya ada tiga nama besar yang disebut-sebut berada di daftar jual, tentu dengan syarat tawaran yang masuk sesuai ekspektasi klub.
Nama pertama adalah Marcus Thuram. Penyerang asal Prancis itu menjadi salah satu aset paling bernilai Inter saat ini. Dengan klausul rilis sebesar €80 juta, Thuram berpotensi dilepas jika ada klub yang berani menebus harga tersebut. Ketajaman dan fleksibilitasnya di lini depan membuatnya diminati banyak klub top Eropa.
Nama kedua yang tak kalah krusial adalah Denzel Dumfries. Bek sayap asal Belanda ini santer dikaitkan dengan kepindahan setelah memutuskan mengganti agen, sebuah langkah yang sering kali menjadi sinyal negosiasi transfer. Kepergian Dumfries akan menjadi kehilangan besar, mengingat perannya yang vital di sisi kanan permainan Inter.
Namun, kabar paling mengejutkan datang dari sosok Nicolò Barella. Gelandang yang selama ini dianggap sebagai ikon dan jantung permainan Inter dikabarkan mulai goyah posisinya. Laporan media menyebut musim yang dinilai kurang memuaskan membuat manajemen membuka kemungkinan menjual Barella, meski keputusan ini tentu akan menuai reaksi besar dari tifosi.
Perampingan Skuad dan Perpisahan Pemain Senior
Tak hanya mengandalkan penjualan pemain bintang, Inter Milan juga dipastikan akan melakukan perampingan skuad besar-besaran. Strategi ini ditempuh untuk menekan beban gaji yang selama ini menjadi salah satu pos pengeluaran terbesar klub.
Sejumlah pemain senior yang kontraknya akan berakhir pada Juni mendatang diperkirakan tidak akan diperpanjang. Nama-nama seperti Francesco Acerbi, Stefan De Vrij, Matteo Darmian, hingga Henrikh Mkhitaryan disebut bakal meninggalkan San Siro secara gratis. Meski kontribusi mereka tidak bisa dipandang sebelah mata, usia dan faktor efisiensi finansial menjadi pertimbangan utama.
Langkah ini menandai perubahan fase di tubuh Inter, dari tim berpengalaman menuju skuad yang lebih ramping dan berorientasi jangka panjang. Namun, risiko penurunan kualitas tetap menjadi ancaman nyata jika regenerasi tidak berjalan mulus.
Tersingkirnya Inter Milan dari Liga Champions 2025/2026 menjadi titik balik yang memaksa klub menghadapi realitas pahit. Penurunan pendapatan, potensi penjualan pemain bintang, serta kepergian para pemain senior menunjukkan bahwa Nerazzurri sedang memasuki masa transisi yang krusial. Keputusan manajemen pada bursa transfer mendatang akan sangat menentukan arah masa depan klub—apakah Inter mampu bangkit dengan fondasi baru, atau justru harus melewati fase sulit sebelum kembali bersaing di level tertinggi Eropa.

