Perjanjian New START Resmi Berakhir AS dan Rusia

Lenterapos.id – Perjanjian New START Resmi Berakhir, dan situasi ini langsung memicu dinamika baru dalam kebijakan pertahanan Amerika Serikat. Presiden Donald Trump dilaporkan tengah mengkaji

Edi Tansil

Lenterapos.id – Perjanjian New START Resmi Berakhir, dan situasi ini langsung memicu dinamika baru dalam kebijakan pertahanan Amerika Serikat. Presiden Donald Trump dilaporkan tengah mengkaji langkah besar, mulai dari memperluas armada nuklir hingga membuka kemungkinan uji coba senjata nuklir bawah tanah. Perkembangan ini menandai babak baru dalam peta geopolitik global, khususnya dalam hubungan antara AS dan Rusia.

Gambar Istimewa : esade.edu

Laporan sejumlah media internasional menyebutkan bahwa pemerintahan Trump saat ini sedang meninjau berbagai opsi strategis. Fokus utamanya adalah bagaimana memperkuat posisi Amerika Serikat setelah berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir yang selama ini menjadi penyangga stabilitas strategis kedua negara.

Akhir New START dan Perubahan Arah Kebijakan

Sebagai informasi, New START merupakan perjanjian antara Amerika Serikat dan Rusia yang membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis aktif masing-masing negara maksimal 1.550 unit. Selama lebih dari satu dekade, kesepakatan ini menjadi fondasi penting dalam menjaga keseimbangan kekuatan nuklir dunia.

Namun, setelah perjanjian tersebut resmi berakhir dan tidak diperpanjang, Gedung Putih memandang situasi ini sebagai peluang untuk merumuskan pendekatan baru. Presiden Trump disebut menolak opsi perpanjangan informal yang sebelumnya diajukan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat seharusnya mengejar perjanjian yang lebih modern dan lebih menguntungkan, bukan sekadar memperpanjang kesepakatan lama. Sikap ini menandakan adanya pergeseran signifikan dari kebijakan pembatasan menuju fleksibilitas penguatan arsenal nuklir.

Opsi Perluasan dan Aktivasi Hulu Ledak Cadangan

Pejabat senior AS mengungkapkan bahwa beberapa opsi tengah dipertimbangkan secara serius. Salah satunya adalah mengaktifkan kembali hulu ledak nuklir cadangan yang selama ini tidak disiagakan.

Selain itu, pemerintahan Trump juga mempertimbangkan untuk memaksimalkan kapasitas infrastruktur nuklir yang sudah ada. Langkah ini termasuk kemungkinan mengaktifkan kembali tabung peluncur rudal pada kapal selam kelas Ohio milik Angkatan Laut AS. Jika terealisasi, kebijakan tersebut memungkinkan Amerika Serikat menambah jumlah rudal balistik berbasis kapal selam yang siaga.

Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Pengendalian Senjata dan Keamanan Internasional, Thomas DiNanno, dalam forum perlucutan senjata di Jenewa menyatakan bahwa New START selama ini memberlakukan apa yang ia sebut sebagai “pembatasan sepihak”. Dengan berakhirnya perjanjian itu, menurutnya, AS kini memiliki ruang lebih luas untuk memperkuat kemampuan strategisnya.

Uji Coba Nuklir Kembali Mengemuka

Salah satu poin paling kontroversial adalah kemungkinan dimulainya kembali uji coba senjata nuklir bawah tanah. Trump secara terbuka menyerukan perlunya Amerika melakukan uji coba yang “setara” dengan dugaan aktivitas Rusia dan China.

DiNanno bahkan menyebut adanya indikasi bahwa Rusia dan China mungkin telah melakukan uji coba berskala kecil yang sulit terdeteksi. Meski tudingan tersebut belum dikonfirmasi secara independen, pernyataan ini memperlihatkan meningkatnya ketidakpercayaan di antara kekuatan besar dunia.

Jika AS benar-benar melanjutkan uji coba nuklir, itu akan menjadi langkah besar yang berpotensi mengubah lanskap keamanan global. Selama beberapa dekade terakhir, dunia bergerak menuju pembatasan dan pengurangan senjata nuklir, bukan ekspansi.

Tekanan Diplomatik atau Awal Perlombaan Senjata?

Sejumlah analis menilai kebijakan ini bisa menjadi strategi tekanan diplomatik. Dengan memperkuat kapasitas nuklir, Washington mungkin berharap dapat mendorong Rusia dan China duduk di meja perundingan untuk menyepakati perjanjian baru yang lebih komprehensif.

Namun di sisi lain, tidak sedikit pakar keamanan internasional yang memperingatkan risiko perlombaan persenjataan nuklir baru. Tanpa kerangka pembatasan resmi, masing-masing negara berpotensi meningkatkan arsenalnya demi menjaga keseimbangan kekuatan.

Situasi ini tidak hanya berdampak pada hubungan AS-Rusia, tetapi juga memengaruhi stabilitas global, termasuk sekutu NATO, negara-negara Asia Timur, hingga kawasan Indo-Pasifik. Ketegangan strategis yang meningkat bisa memicu ketidakpastian baru dalam politik internasional.

Dampak Global dan Respons Dunia

Komunitas internasional kini memantau perkembangan ini dengan cermat. Negara-negara yang selama ini mendukung rezim non-proliferasi khawatir langkah Amerika dapat melemahkan norma pengendalian senjata yang telah dibangun bertahun-tahun.

Organisasi internasional dan kelompok advokasi perlucutan senjata pun menyerukan dialog lanjutan untuk mencegah eskalasi. Mereka menekankan bahwa stabilitas strategis global tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh komitmen terhadap transparansi dan perjanjian internasional.

Berakhirnya Perjanjian New START membuka babak baru dalam kebijakan nuklir Amerika Serikat. Keinginan Presiden Donald Trump untuk memperluas armada nuklir dan mempertimbangkan uji coba senjata nuklir menandai perubahan signifikan dalam pendekatan pertahanan AS. Di satu sisi, langkah ini dipandang sebagai strategi memperkuat posisi tawar dalam negosiasi global. Namun di sisi lain, risiko meningkatnya ketegangan dan potensi perlombaan senjata menjadi bayang-bayang yang tidak bisa diabaikan. Dunia kini menanti apakah langkah ini akan membawa kesepakatan baru yang lebih kuat, atau justru memicu era ketidakpastian strategis yang lebih besar.

Ikuti kami :

Tags

Related Post

 

Ads - Before Footer